
Pada masa kini, di mana kecanggihan teknologi dan kecepatan arus informasi, menghasilkan berbagai teori ilmu, salah satunya mengenai pola asuh anak (parenting). Sebelum memasuki jenjang pendidikan, pengasuhan anak sepenuhnya dilakukan oleh orang tua, sebagai pihak yang paling banyak berinteraksi dengan anak. Pola interaksi yang terbentuk merupakan upaya pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, dan sosial anak serta memberikan wawasan nilai-nilai agar anak dapat berperilaku dan berkarakter baik.
Pola pengasuhan anak dengan basis kearifan lokal dipahami sebagai tipe pengasuhan anak menggunakan metode yang sesuai dengan perkembangan anak, mengandung nilai-nilai luhung, serta berasal dan hidup di lingkungan tempat tinggal. Pengasuhan yang dilakukan adalah dengan membatinkan nilai-nilai yang diserap dari kearifan lokal dan membiasakannya pada perilaku anak.
Metode pengasuhan anak berbasis kearifan lokal, di antaranya :
1. Menekankan interaksi
2. Sesuai dengan dunia anak
3. Mengembangkan semua dimensi kemanusiaan anak
4. Mengandung nilai kearifan lokal atau ciptaan asli suku-suku di Indonesia
Ciptaan asli suku atau kearifan lokal didefinisikan sebagai sekumpulan ciptaan tradisional, baik dari perorangan maupun kelompok yang menunjukkan identitas sosial budaya dengan standar dan nilai yang diikuti secara turun-temurun, seperti :
1. Cerita, dongeng, dan puisi rakyat
2. Lagu dan musik instrumen tradisional
3. Tarian
4. Permainan
5. Lukisan, gambar, ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian adat, tenun tradisional
Dengan mengembangkan pengasuhan berbasis kearifan lokal, diharapkan anak mampu untuk :
1. Mengembangkan dan mewarisi nilai-nilai luhur dari generasi sebelumnya, seperti nilai budaya dan moral yang tinggi - kejujuran, kecakapan, solidaritas, persatuan dan kesatuan, keterampilan dan keberanian. Selain itu, kearifan lokal yang lain adalah rasa kesenangan, kebebasan, pertemanan, demokrasi, kepemimpinan, tanggung jawab, kebersamaan, saling bantu, kepatuhan, kecakapan berhitung, berpikir dan membaca situasi, serta sportivitas.
2. Meningkatkan dimensi anak, seperti dimensi motorik atau aktivitas fisik, dimensi kognitif atau wawasan pengetahuan, kecerdasan emosi seperti toleransi dan empati, dimensi bahasa seperti diskusi, dimensi sosial seperti relasi dan kerja sama, dimensi spiritual atau nilai luhur dan transedental, serta dimensi ekologi atau natural yang berkaitan dengan pemanfaatan alam sekitar dengan bijak.
3. Melestarikan budaya asli Indonesia yang sejalan dengan nilai-nilai luhur di tengah masifnya kemunculan permainan daring dan cerita-cerita impor.
Penulis : Annisa Istika
Sumber : Kemdikbud RI - Pengasuhan Anak Berbasis Kearifan Lokal