
Gula kelapa sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu pemanis alami makanan dan minuman yang dapat menjadi pengganti gula pasir atau gula tebu. Gula kelapa diperoleh dari proses penyadapan nira kelapa yang kemudian dikurangi kadar airnya melalui proses pemasakan dan pencetakan hingga menjadi padat. Umumnya, waktu penyadapan dilakukan pada pagi dan sore hari.
Kalurahan Hargorejo memiliki komoditas pohon kelapa yang tumbuh subur. Dengan besarnya komoditas kelapa yang dihasilkan, sebagian besar warga Kalurahan Hargorejo bermata pencaharian sebagai penyadap nira kelapa dan produsen gula kelapa. Usaha ini tergolong jenis industri rumahan karena pengerjaannya secara individu di rumah masing-masing pengrajin. Penyadapan biasanya dilakukan oleh para pria, kemudian proses pemasakan selama lebih kurang 2-3 jam hingga menjadi gula cetak atau gula kelapa dilakukan oleh para wanita di rumah.
Durasi proses pemasakan bergantung pada kuantitas nira yang diolah. Waktu 2 hingga 3 jam merupakan waktu ideal untuk menghasilkan 1-2 kilogram gula kelapa. Bahan baku nira kelapa dengan perbandingan 1:2, di mana untuk menghasilkan 5 kilogram gula kelapa, maka dibutuhkan 10 liter nira kelapa.
Nira yang baik untuk menghasilkan gula kelapa yang keras dan kering adalah nira yang berwarna jernih dan tidak mengalami fermentasi alami atau yang biasa disebut dengan istilah ‘matang di pohon’. Proses produksi gula kelapa di tingkat petani maupun industri rumahan dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana, yatu menggunakan kuali, pengaduk, dan tungku kayu bakar. Gula kelapa sering dicetak berbentuk bulat menggunakan bambu ataupun berbentuk setengah bola menggunakan batok kelapa. Gula kelapa cetak dari hasil produksi para pengrajin (petani) biasanya langsung dijual ke pasar atau pengepul yang datang pada hari-hari tertentu. Selain daya tahan yang pendek, gula kelapa cetak memiliki kelemahan, yaitu tingkat harga yang sangat tidak menentu.
Gula kelapa semula hanya diproduksi sebagai gula cetak, sedangkan pengolahan menjadi variasi gula kelapa kristal atau gula semut untuk sementara ini masih sangat terbatas pada produsen tertentu, yang memiliki peralatan dan mesin yang lebih modern, seperti oven. Produk gula kelapa selain diminati di dalam negeri juga sangat diminati oleh pasar pengekspor, terutama dalam bentuk gula semut. Negara-negara tujuan ekspor tersebut antara lain Amerika, Jepang, dan Eropa. Gula kelapa dari Indonesia dapat diterima di mancanegara karena memiliki kandungan, rasa, dan aroma yang berbeda dengan produksi dari negara lain.
Kekhasan kandungan gula kelapa di samping berwarna kuning kecoklatan, rasa, dan aroma, juga ditunjang dengan kandungan nilai nutrisi yang lebih tinggi dan lebih baik daripada produk pemanis lainnya. Kandungan nutrisi yang terkandung di dalam gula kelapa, antara lain Protein, Lemak, Kalium, Zing, dan Fosfor.
Dengan variasi produksi yang berpotensi untuk dikembangkan, gula kelapa dapat menjadi komoditas unggulan masyarakat petani penghasil nira di Kalurahan Hargorejo.(Annisa Istika)