You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi KALURAHAN HARGOREJO

Kap KOKAP, Kab. KULON PROGO, Prov. DI Yogyakarta

Warga selo timur kembali budidayakan  tanaman Porang


Warga selo timur kembali budidayakan  tanaman Porang

Hargorejo, Senin (14/12/2020) Tidak banyak masyarakat yang tahu tentang tanamanan jenis porang ini. Bagi masyarakat awam, ini merupakan makanan jenis umbi-umbian. Sebangsa suwek.  Tanaman porang memiliki  latin Amorphophallus oncophyllus ini di berbagai daerah juga mempunyai sebutan sendiri, ada yang menyebut  dengan iles-iles, iles, atau oblo. Porang merupakan bajan dasar  pembuatan tepung, mie shirataki,ngelatin, pelapis anti air,cat, atau bahkan sampai kosmetik.

Geliat budidaya porang di Selo Timur, Hargorejo, Kokap, pada musim penghujan sekarang ini sedang marak. Mengingat tanamanan ini sekarang memiliki nilai jualnya lebih tinggi. Dibandingkan tanaman kebun warga yang lain seperti singkong atau kacang tanah. Selain kebutuhan permintaan dari pasar.

Untuk bibit porang,warga mendapatkan dengan membeli katak porang atau umbi porang kecil. Meski sebagian warga yang lain mencari bibit porang di hutan sekitar Selo Timur. Sebagai pupuk, warga biasa menggunakan pupuk kandang.

Paijan salah satu petani porang mengatakan "Harapannya pada dinas terkait untuk memperhatikan petani porang ini. Mengingat petani di wilayah ini masih pemula. Jadi perlu pendampingan"

Hal lain diungkap oleh Marto Suwito Ketua Kelompok Tani Taruna Tani. Meskipun pada tahun 2013 kelompok Taruna Tani  pernah mempunyai program tanam porang seluas 11 Ha.Namun masa itu nilai jualnya belum tinggi dan kurang dalam parawatan,sehingga terbengkalai begitu saja dan tidak terurus di hutan. Dan sekarang tanaman ini menjadi liar yang menyatu dengan semak belukar karena tidak diperhatikan oleh warga, sekarang warga kembali menggeliatkan tanaman porang menginggat daya jual yang sekarang tinggi.
  
Budidaya Porang umumnya sangat mudah. Dapat dipanen untuk pertama kali normalnya setelah umur 3 tahun. Dan setelah itu dapat dipanen setahun sekali, tanpa harus menanam kembali umbinya. Tanaman ini mengalami pertumbuhan selama 5 - 6 bulan tiap tahunnya pada musim penghujan. (Wir)
Sumber : Aulia Chaniago

Bagikan artikel ini: