Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo

Hargorejo — Perayaan tradisi Suronan atau Suran di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo menjadi bukti nyata masih kokohnya pelestarian budaya luhur Jawa yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius di tengah masyarakat modern. Tradisi tahunan ini dilaksanakan dengan berbagai cara oleh warga setempat, Sebagian jamaah seperti di Masjid Al Khoiriyah Sangkrek memilih merayakannya tepat pada awal bulan Muharram, sementara jamaah Musholla An-Nur Segandong di Padukuhan Sangkrek menggelarnya secara khidmat pada Malam 10 Muharram atau Malam 10 Suro, Rabu (24/06/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di serambi dan halaman Musholla An-Nur Segandong tersebut diawali setelah warga melaksanakan Shalat Isya dan Shalat Tasbih berjamaah. Sebelum ritual utama kenduri dan doa bersama dibuka, lantunan sholawatan yang diiringi tabuhan musik hadroh berkumandang memecah kesunyian malam sekaligus menyatukan kerukunan warga RT.045 Padukuhan Sangkrek dan warga Padukuhan Gunung Kukusan yang turut berbondong-bondong memadati lokasi. Puncak kegiatan diisi dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin secara bergantian dan berkesinambungan oleh lima orang sesepuh terpandang yang terdiri dari tokoh masyarakat serta kaum atau ro’is setempat.
Kekayaan budaya dalam Suronan ini semakin terpancar saat memasuki sesi kenduri dan kembul bujana atau makan bersama, di mana hidangan ikonik berupa bubur suro yang diracik dari tujuh macam biji-bijian serta sayur khusus dari tujuh jenis sayuran lokal disajikan kepada seluruh warga yang hadir. Berdasarkan penuturan para sesepuh, pemilihan angka tujuh dalam menu masakan tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah simbolisasi dari jumlah hari dalam sepekan yang membawa pesan mendalam agar umat manusia senantiasa menanamkan tekad kuat serta niat yang baik dalam setiap tindakan mereka sehari-hari.
Hal yang paling mencolok dan membedakan kenduri pada bulan Suro ini dengan kenduri pada umumnya terletak pada pemilihan wadah nasi dan sayur untuk makanan yang dibawa pulang atau berkat. Jika pada kenduri biasa masyarakat umumnya menggunakan wadah berbahan plastik, maka pada tradisi Suron ini wadah plastik tersebut sepenuhnya diganti menggunakan anyaman yang terbuat dari janur, yaitu daun kelapa yang masih muda dan berwarna hijau. Anyaman janur ini dibuat secara sederhana, di mana pada bagian ujungnya diikat dengan tali hingga membentuk struktur wadah yang unik dan tidak beraturan. Nasi berkat beserta sayurnya pun juga dikemas menggunakan wadah dari dedaunan lokal seperti daun jati dan daun pisang. Penggunaan janur dan dedaunan sebagai wadah berkat ini sengaja dipertahankan oleh warga dengan tujuan utama untuk melestarikan tradisi nenek moyang yang sejak dahulu selalu memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar.
Penulis : Ajru F.
Editor : Fitriana
14 April 2020
130.518 Kali
24 Februari 2023
77.586 Kali
30 September 2019
75.253 Kali
06 Mei 2020
71.696 Kali
04 Mei 2020
69.080 Kali
23 Agustus 2022
65.518 Kali
26 Juli 2022
49.950 Kali
Kokap - Kulon Progo
Surat Keterangan Domisili
Surat Pengantar SKCK
Surat Keterangan Usaha
Surat Keterangan Kelahiran
Surat Keterangan Kematian
Dan Lain-lainnya
Hubungi Perangkat Kalurahan untuk mendapatkan PIN anda...
Laki-laki
Perempuan
BELUM MENGISI
TOTAL
© Kalurahan Hargorejo - OpenSID 2606.0.0-premium